Rabu, 09 Januari 2013

PRE-EKLAMSIA hal 6 dari 7



7.    Frekuensi
Ada yang melaporkan angka kejadian sebanyak 6% dari seluruh kehamilan, dan 12% pada kehamilan primigravida. Menurut beberapa penulis lain frekuensi dilaporkan sekitar 3-10%. Lebih banyak dijumpai pada primigravida daripada multigravida, terutama primigravida usia muda. Faktor-faktor predisposisi untuk terjadinya preeklamsia adalah molahidatidosa, diabetes melitus, kehamilan ganda, hidrops fetalis, obesitas, dan umur yang lebih dari 35 tahun (Mochtar, 2007).
Menurut Winkjosastro Hanifa (2006) Frekuensi pre eklamsia pada tiap negara berbeda-beda karena banyak faktor yang mempengaruhinya; jumlah primigravida, keadaan sosial ekonomi, perbedaan kriterium dalam penentuan diagnosis, dan lain-lain. Dalam kepustakaan frekuensi dilaporkan berkisar antara 3-10%. Pada primigravida frekuensi pre eklamsia lebih tinggi bila dibandingkan dengan multi gravida, hidrops fetalis, umur > 35 tahun, dan obesitas merupakan faktor predisposisi untuk terjadinya pre eklamsia. 
8.    Faktor resiko pre eklamsia
Menurut Chapman Vicky (2006), factor resiko pre eklamsia :
1)    Pre eklamsia 10 kali lebih sering terjadi pada primigravida
2)    Kehamialn ganda memiliki resiko lebih dari 2 kali lipat
3)    Obesitas (yang dengan indeks masa tubuh > 29) meningkatkan resiko 4 kali lipat.
4)    Riwayat hipertensi
5)    Diabetes
6)    Pre eklamsia sebelumnya (20% resiko kekambuhan)
 Menurut Bobak (2004), factor resiko pre eklamsia :
1)    Primigravid, multi para (Mitayani, 2009)
2)    Usia < 20 atau > 35 tahun
3)    Obesitas
4)    Diabetesmilitus
5)    Hipertensi sebelumnya
6)    Kehamilan mola
7)    Kehamilan ganda
9)    Pre eklamsia pada kehamilan sebelumnya 
9.    Diagnosis
Menurut Mitayani (2009), diagnosis di tegakkan berdasarkan :
1. Wawancara
a. Riwayat Kesehatan
1)    Riwayat kesehatan dahulu
a)  Kemungkinan ibu menderita penyakit hipertensi sebelum hamil
b)  Kemungkinan ibu mempunyai riwayat pre eklamsia pada kehamilan terdahulu
c)   Biasanya mudah terjadi pada ibu yang obesitas
d)   Ibu mungkin pernah menderita ginjal kronis
2)    Riwayat kesehatan sekarang
a)    Ibu merasakan sakit kepala di daerah frontal
b)    Terasa sakit di ulu hati/nyeri epigastrium
c)    Gangguan virus : pandangan mata kabur, skotoma dan diplopia
d)    Mual dan muntah, tidaka da nafsu makan
e)    Gangguan serebral lain misal: refleks tinggi dan tidak tenang
f)     Edema pada ekstremitas
g)    Tengkuk terasa berat
h)   Kenaikan berat badan mencapai 1 kg seminggu
Penanganan Preeklamsia ringan menurut Rukiyah (2010), dapat dilakukan dengan dua cara tergantung gejala yang timbul yakni :
1. Pre Eklamsia Ringan
a)    Penatalaksanaan rawat jalan pasien preeklamsia ringan, dengan cara : ibu dianjurkan banyak istirahat (berbaring,tidur/miring), diet : cukup protein, rendah karbohidrat, lemak dan garam; pemberian sedativa ringan : tablet phenobarbital 3×30 mg atau diazepam 3×2 mg/oral selama 7 hari (atas instruksi dokter); roborantia; kunjungan ulang selama 1 minggu; pemeriksaan laboratorium: hemoglobin, hematokrit, trombosit, urin lengkap, asam urat darah, fungsi hati, fungsi ginjal.
b)    Penatalaksanaan rawat tinggal pasien preeklamsi ringan berdasarkan kriteria : setelah duan minggu pengobatan rawat jalan tidak menunjukkan adanya perbaikan dari gejala-gejala preeklamsia; kenaikan berat badan ibu 1kg atau lebih/minggu selama 2 kali berturut-turut (2 minggu); timbul salah satu atau lebih gejala atau tanda-tanda preeklamsia berat.
 Bila setelah satu minggu perawatan diatas tidak ada perbaikan maka preeklamsia ringan dianggap sebagai preeklamsia berat. Jika dalam perawatan dirumah sakit sudah ada perbaikan sebelum 1 minggu dan kehamilan masih preterm maka penderita tetap dirawat selama 2 hari lagi baru dipulangkan. Perawatan lalu disesuaikan dengan perawatan rawat jalan.
Perawatan obstetri pasien preeklamsia menurut Rukiyah (2010) adalah :
a)    Kehamilan preterm (kurang 37 minggu) : bila desakan darah mencapai normotensi selama perawatan, persalinan ditunggu sampai aterm; bila desakan darah turun tetapi belum mencapai normotensi selama perawtan maka kehamilanya dapat diakhiri pada umur kehamilan 37 minggu atau lebih.
b)    Kehamilan aterm (37 minggu atau lebih) : persalinan ditunggu sampai terjadi onset persalinan atau dipertimbangkan untuk melakukan persalinan pada tanggal taksiran persalinan
c)    Cara persalinan: Persalinan dapat dilakukan secara spontan bila perlu memperpendek kala II.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar